Cinta adalah kecenderungan terhadap sesuatu yang disertai pengertian dan pengorbanan

Cinta adalah kecenderungan terhadap sesuatu yang disertai pengertian dan pengorbanan

Image | Posted on by | Leave a comment

Kaulah Segalanya, tiada lagi yang kuharap hanya kau seorang..

DIA

Image | Posted on by | Leave a comment

Bersabar bukan …

Bersabar bukan hanya bertahan.. Bersabar itu tetap dalam ajaran Allah..

Quote | Posted on by | Leave a comment

PANCASILA DALAM SEJARAH PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pancasila dalam Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia” dengan baik. Makalah ini kami susun guna melengkapi tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila. Selain itu makalah ini tidak hanya sekedar wacana, namun dapat menjadi wahana dalam melestarikan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penyusunan makalah ini tidak sedikit kesulitan yang kami temui. Namun berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Dalam kesempatan ini kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak Muhamad Soleh, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pembina mata kuliah ini.

“Tiada gading yang tak retak”, begitupun dengan makalah ini. Maka dari itu, kritik dan saran konstruktif sangat kami harapkan demi perbaikan penyusunan selanjutnya. Akhirnya penulis tetap berharap seoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

 

Surabaya, Maret 2013

 

 

Penulis

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Perjalanan hidup suatu bangsa sangat tergantung pada efektifitas penyelenggaraan suatu negara. Pancasila sebagai dasar negara dalam mengatur penyelenggaraan negara disegala bidang, baik bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, maupun pertahanan-keamanan. Berdasar pada latar belakang historis yang sulit dibantah , bahwa 1 Juni 1945 yang disebut sebagai lahirnya pancasila, Ir. Soekarno sebagai tokoh nasional yang menggali Pancasila tidak pernah berbicara ataupun menulis tentang pancasila, baik dalam sebagai pandangan hidup, atau apalagi sebagai dasar negara. Dalam pidatonya, beliau menyebutkan atau menjelaskan bahwa gagasan tentang pancasila tersebut terbersit bagaikan ilham setelah mengadakan renungan pada malam sebelumnya. Renungan itu beliau lakukan untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan ketua BPUPKI Dr. Radjiman Widyodiningrat mengenai apa yang akan dijadikan dasar negara Indonesia yang akan dibentuk?

Lima dasar atau sila yang buliau ajukan itu dinamakan filosofische grondslag yaitu nilai-nilai esensial yang terkandung dalam pancasila, yaitu: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan serta keadilan, dalam kenyataannya secara objektif telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala sebelum mendirikan negara. Proses terbentuknya negara dan bangsa Indonesia melalui suatu proses sejarah yang cukup panjang yaitu sejak zaman batu kemudian timbulnya kerajaan-kerajaan pada abad ke IV dan ke V kemudian dasar-dasar kebangsaan Indonesia telah mulai nampak pada abad ke VII ketika timbulnya kerajaan-kerajaan besar di Jawa Timur dan lainnya.

Dasar-dasar pembentukan Nasionalisme modern dirintis oleh para pejuang kemerdekaan bangsa, antara lain rintisan yang dilakukan oleh para tokoh pejuang kebangkitan nasional pada tahun 1908, kemudian dicetuskan pada sumpah pemuda pada tahun 1928.

 

 

  1. Perumusan Masalah

Berpijak dari latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah dalam penulisan makalah ini yaitu :

  1. Bagaimana nilai-nilai pancasila pada zaman sejarah?
  2. Bagaimana nilai-nilai pancasila sebelum kemerdekaan Indonesia?
  3. Bagaimana nilai-nilai pancasila pasca Indonesia merdeka?
  4. Bagaimana pancasila dalam era refornasi?
  5. Tujuan Penulisan
    1. Memahami pancasila secara lengkap dan utuh sebagai jati diri bangsa Indonesia.
    2. Untuk membentuk kehidupan suatu negara yang berdasarkan suatu asas hidup bersama demi kesejahteraan hidup yang berlandaskan pancasila.
    3. Sebagai epistimologi dan kebenaran ilmiah.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Nilai-Nilai Pancasila Pada Masa Pra Sejarah

Ahli geologi menyatakan bahwa kepulauan Indonesia terjadi dalam pertengahan jaman tersier kira-kira 60 juta tahun yang silam. Baru pada jaman quarter yang dimulai sekitar 600.000 tahun yang silam Indonesia didiami oleh manusia, dan berdasarkan hasil penemuan fosil Meganthropus Paleo Javanicus, Pithecanthropus Erectus, Homo Soloensis, Homo Wajakensis, serta Homo Mojokertensis.

Berdasarkan artefak yang ditinggalkan, mereka mengalami hidup tiga jaman yaitu :

  1. Paleolitikum
  2. Mesolitikum
  3. Neolithicum

 

Inti dari kehidupan bangsa Indonesia pada masaPra Sejarah hakekatnya adalah nilai-nilai Pancasila itu sendiri, yaitu :

  1. Nilai Religi

Adanya kerangka mayat pada Paleolitikum menggambarkan  adanya penguburan, terutama Wajakensis dan mungkin Pithecanthropus Erectus, serta dalam menghadapi tantangan alam tenaga gaib sangat tampak. Selain itu ditemukan alat-alat baik dari batu maupun perunggu yang digunakan untuk aktifitas religi seprti upacara mendatangkan hujan, dll. Adanya keyakinan terhadap pemujaan roh leluhur juga dan penempatan menhir di tempat-tempat yang tinggi yang dianggap sebagai tempat roh leluhur, tempat yang penuh keajaiban dan slelebagai batas antara dunia manusia dan roh leluhur.

Jelas bahwa masa Pra Sejarah sudah mengenal nilai-nilai kehidupan religi dalam makna animism dan dinamisme sebagai wujud dari religious behavior.

  1. Nilai Peri Kemanusiaan

Nilai ini tampak dalam perilaku kehidupan saaat itu misalnya penghargaan terhadap hakekat kemanusiaan yang ditandai dengan penghargaan yang tinggi terhadap manusia meskipun sudah meninggal. Hal ini menggambarkan perilaku berbuat baik terhaap sesama manusia, yang pada hakekatnya merupakan wujud kesadaran akan nilai kemanusiaan. Mereka tidak hidup terbatasdi wilayahnya, sudah mengenal sistem barter antara kelompok pedalaman dengan pantai dan persebaran kapak. Selain itu mereka juga menjalin hubungan dengan bangsa-bangsa lain.

  1. Nilai Kesatuan

Adanya kesamaan bahasa Indonesia sebagai rumpun bahasa Austronesia, sehingga muncul kesamaan dalam kosa kata dan kebudayaan. Hal ini sesuai dengan teori perbandingan bahasa menurut H.Kern dan benda- benda kebudayaan Pra Sejarah Von Heine Gildern. Kecakapan berlayar karena menguasai pengetahuan tentang laut, musim, perahu, dan astronomi, menyebabkan adanya kesamaan karakteristik kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu tidak mengherankan jika lautan juga merupakan tempat tinggal selain daratan. Itulah sebabnya mereka menyebut negerinya dengan istilah Tanah Air.

  1. Nilai Musyawarah

Kehidupan bercocok tanam dilakukan secara bersama-sama. Mereka sudah memiliki aturan untuk kepentingan bercocok tanam, sehingga memungkinkan tumbuh kembangnya adat sosial.

Kehidupan mereka berkelompok dalam desa-desa, klan, marga atau suku yang dipimpin oleh seorang kepala suku yang dipilih secara musyawarah berdasarkan Primus Inter Pares (yang pertama diantara yang sama).

  1. Nilai Keadilan Sosial

Dikenalnya pola kehidupan bercocok tanam secara gotong-royong berarti masyarakat pada saat itu telah berhasil meninggalkan pola hidup foodgathering menuju ke pola hidup foodproducing. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat itu upaya kearah perwujudan kesejahteraan dan kemakmuran bersama sudah ada.

  1. Nilai-Nilai Pancasila Sebelum Kemerdekaan

Nilai-nilai esensial Pancasila sebelum disahkan tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI nilainya telah ada pada bangsayang terkandung Indonesia sejak zaman dahulu berupa :dalam pancasilayaitu : Nilai – Nilai Adat Kemanusiaan Persatuan Kebudayaan Religius Istiadat Ketuhanan Kerakyatan Keadilantelah dimiliki bangsa Indonesia sejak bangsa Indonesia melaluiproses sejarah yang cukup panjang , yaitu pada zaman Batu.Kemudian dasar-dasar kebangsaan Indonesia mulai tampakpada abad ke VII ketika timbulnya kerajaan Sriwijaya, Airlangga dan Majapahit serta kerajaan-kerajaan lainnya.

Indonesia memasuki zaman sejarah pada tahun 400M, dengan ditemukannya prasasti 7 Yupa . Raja Mulawarman menurut prasasti tersebut mengadakan kenduri dan memberikan sedekah kepada Brahmana dan para Brahmana membangun Yupa itu sebagai tanda terima kasih kepada Raja yang dermawan. Sosial Masyarakat Kutai yang membuka zaman sejarah Politik Indonesia pertama kalinya Kerajaan, menampilkan nilai-nilai Kenduri, berupa : SedekahKetuhanan Brahmana.

Pada abad ke VII muncullah sebuah kerajaan di Sumatera yaitu kerajaan Sriwijaya, dibawah kekuasaan wangsa Syailendra . Hal ini termuat dalam prasasti Kedukan Bukit. Perdagangan dilakukan dengan mempersatukan pedagang pengrajin dan pegawai Raja yang disebut Tuha An Vatakvurah sebagaipengawas dan pengumpul semacam koperasi sehingga rakyat mudah untuk memasarkan barang dagangannya.Demikian pula dalam sistem pemerintahannya kerajaan dalam menalankan sistem pemerintahannya tidak dapat dilepaskandengan nilai Ketuhanan. Sedangkan agama dan kebudayaandikembangkannya dengan mendirikan suatu Universitas agama Buddha.

Sebelum kerajaan Majapahit, muncul kerajaan- kerajaan yang memancangkan nilai-nilai Nasionalisme. Muncul kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur secara silih berganti. Di Kerajaan Isana, Jawa Tengah muncul Kerajaan Kalingga (abad ke Darmawangsa, VII) dan Sanjaya pada (abad ke VIII) . dan Airlangga. Raja Airlangga Membangun bangunan Keagamaan dan Asrama sebagai sikap toleransi dalam beragama Membuat Hubungan dagang dan kerja sama dengan Benggala, Chola dan1037, Raja Airlangga Champa yg membuat tanggul 1019 , para pengikutnya , rakyat, menunjukkan nilai-nilai dan waduk demi dan para brahmana bermusyawarah dan kemanusiaan keseahteraan memutuskan untuk memohon pertanian Rakyat, Airlangga bersedia menjadimerupakan nilai – nilai Raja sebagai nilai-nilai sila ke IV. sila ke V.

Pada tahun 1293, berdirilah keraaan Majapahit yang mencapai zaman keemasannya pada pemerintahan Raja Hayamwuruk.Pada waktu itu, agama Hindu dan Budha hidup berdampingan dalam satu Kerajaan, bahkan salah satu bawahan kekuasaannya yaitu Pasai justru memeluk agama Islam. Toleransi positif dalam beragama dijunjung tinggi sejak masa bahari yang telah silam. Majapahit menjulang dalam arena sejarah kebangsaan Indonesia dan banyak meninggalkan nilai- nilai yang diangkat dalam nasionalisme negara kebangsaan Indonesia 17 Agustus 1945. Namun , sinar kejayaan Majapahit berangsur-angsur mulai memudar dan akhirnya mengalami keruntuhan dengan “Sinar Hilang Kertaningbumi” pada permulaan abad ke XVI (1520).

Pattimura di Maluku Akhir abad ke XVI , Belanda Abad XVII , pada awalnya (1817) datang ke Belanda menguasai daerah-daerah yang Indonesia. strategis dan kaya akan Baharuddin di hasil rempah-rempah Palembang (1819) Imam Bonjol di Minangkabau (1821- 1837) Namun kedudukannya semakin diperkuat dengan kekuatanPangeran Diponegoro di militerJawa Tengah (1825-1830) Melihat praktek-praktekJelentik , Polim, Teuku Tjik penjajahan Belanda tersebut di Tiro, Teuku Umar maka meledaklah perlawanan rakyat di berbagai wilayah dalam perang Aceh Nusantara, antara lain : (1860)

Pada abad XX di panggung politik internasional terjadilah pergolakanAdapun di Indonesia , kebangkitan dunia Timur denganbergolak lah kebangkitan suatu kesadaran akan kekuatannyakesadaran akan berbangsa sendiri.yaitu kebangkitan Nasionaldipelopori olehdr. Wahidin Sudirohusododengan Budi Utomo-nya. Budi Utomo yang dididirikan pada 20 Mei 1908, dan inilah yang merupakan pelopor pergerakan Nasional, sehingga segera setelah itu muncullah organisasi-organisasi pergerakan lainnya.

Jepang masuk ke Indonesia dengan propaganda“Jepang Pemimpin Asia, Jepang saudara tuabangsa Indonesia” . Agar mendapat dukungan dari bangsa Indonesia , pemerintahan Jepang menjanjikan Indonesia Merdeka kelak di kemudian hari. Pada tanggal 29 April 1945 , Jepang memberikan hadiah ulang tahun kepada bangsa Indonesia, yaitu janji kedua pemerintah Jepang berupa “ kemerdekaan tanpa syarat” sebagai realisasi janji-janji tersebut maka dibentuklah suatu badan yang bertugas untuk menyelidiki usaha- usaha periapan kemerdekaan bangsa Indonesia yaitu Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Sidang ini dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 1945 – 1 Juni 1945 , pada tanggal 29 Mei 1945, dalam pidato Muh. Yamin, beliau mengusulkan calon rumusan dasar negara negara Indonesia sebagai berikut : Pada tanggal 31 Mei1945, dalam pidato Prof. Dr. Peri Peri Peri Supomo mengemukakan Kebangsaan Kemanusiaan Ketuhanan teori-teori negara sbb : Teori Negara Perseorangan(Individualis), Paham Negara Peri Kesejahteraan Kelas ( Class Theory), Paham Kerakyatan Rakyat Negara Integralistik. 5 Prinsip sebaga Dasar negara tersebut kemudian oleh Soekarno Pada tanggal 1 Juni 1945, dalam agar diusulkan agar dinamakan pidato Ir. Soekarno mengusulkan Pancasila. Beliau juga mengusulkan dasar negara yang terdiri atas 5 bahwa Pancasila adalah sebagai prinsip . Nasionalisme (Kebangsaan dasar filsafat negara dan Indonesia), Internasionalisme (Peri pandangan hidup Bangsa Kemanusiaan) , Mufakat (Demokrasi) , Indonesia. Kesejahteraan Sosial, Ketuhanan YME (Ketuhanan yang berkebudayaan) .

Pada tanggal 22 Juni 1945, Ir. Soekarno mengadakan pertemuanuntuk membentuk panitia kecil yang terdiri atas sembilan orang dan dikenal dengan s ebutan Panitia Sembilan. Panitia ini mencapai suatu hasil yang baik yaitu suatu modus atau persetujuan antara golongan Islam dan golongan kebangsaan. Pada tanggal 11 Juli 1945 keputusan penting dalam rapat BPUPKI kedua adalah menghendaki Indonesia Raya yangsesungguhnya yang mempersatukan semua kepulauan Indonesiayang pada bulan Juli 1945 itu sebagian besar wilayah Indonesia kecuali Irian, Tarakan dan Morotai yang masih dikuasai Jepang. Pada tanggal 14 Juli badan penyelidik bersidang lagi dan melapirkan hasil pertemuannya terdiri atas susunan UU yang terdiri dari 3 bagian .

Pada tanggal 16 Agustus 1945, diadakan pertemuan di Pejambon , Jakarta. Dan diperoleh kepastian bahwa Jepang telah menyerah , maka Soekarno dan Hatta setuju untukdilaksanakannya proklamasi kemerdekaan yang dilaksanakan di Jakarta. Kemudian pada tanggal 17 Agustus 1945, di Jl.Pegangsaan Timur 56 Jakarta, pada hari Jum’at pukul 10.00 WIB, Bung Karno dengan didampingi Bung Hatta membacakan naskah proklamasi dengan hikmat.Sehari setelah proklamasi kemerdekaan, pada tanggal 18 Agustus 1945 PPKI mengadakan sidangnya yang pertama, dilanjutkan dengan sidang PPKI kedua, ketiga dan keempat.

Masa Setelah Proklamasi Kemerdekaan Setelah proklamasi kemerdekaan 17 agustusMaklumat Wakil presiden No. X 1945 ternyata bangsa Indonesia masih tanggal 16 Oktober 1945 menghadapi kekuatan sekutu yang berupaya menanamkan kembali kekuasaan Belanda di Maklumat Pemerintah tanggal 3 Indonesia, yaitu pemaksaan untuk mengakui November 1945 pemerintah NICA. Untuk melawan propaganda Belanda , Pemerintah RI mengeluaran tiga buah maklumat Maklumat Pemerintah tanggal 14 November 1945 yakni :Keadaan demikian telah membawa ketidakstabilan di bidangPolitik. Akibat penerapan sistem parlementer tersebut makapemerintahan Negara Indonesia mengalami jatuh bangun kabinetsehingga membawa konsekuensi yang sangat serius terhadapkedaulatan Negara Indonesia saat ini.

 

  1. Nilai-Nilai Pancasila Pasca Indonesia Merdeka

Latar belakang kehidupan para penggali Pancasila, interaksinya dengan masyarakat dan suasana kebatinan kolonialisme yang dihadapi kemudian diabstrasikan dalam rumusan-rumusan konsep mengenai (kemungkinan) dasar bernegara. Adu konsep meniscayakan diskusi dalam sidang BPUPKI untuk menghasilkan rumusan Pancasila, selain dimunculkannya istilah Pancasila, dialog terjadi berkaitan dengan perumusan dasar negara untuk negara yang (akan) merdeka. Pancasila dalam perumusannya mengalami pergumulan terutama berkaitan dengan sila atau nilai mengenai ketuhanan. Perumusan nilai ketuhanan yang kemudian dikenal dengan sila pertama yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, yang rumusan awalnya merupakan konsekuensi dari mayoritas tokoh muslim yang berada dalam BPUPKI. Dan pergumulan rumusan akhir nilai ketuhanan, oleh Soepomo dikatakan sebagai penyelesaian yang merupakan akibat gentlemen agreement antara kelompok nasionalis dan kelompok agama.

Pancasila yang dituangkan dalam pembukaan UUD 1945 disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 sah menjadi dasar negara Indonesia (baru). Pasca kemerdekaan, aktualisasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seolah mengalami kemorosotan. Kemerosotan dimaksud bahwa diskusi untuk merefleksi dasar negara Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak mendapatkan ruang yang cukup. Kondisi tersebut disebabkan fokus kehidupan berbangsa diarahkan pada mempertahankan kemerdekaan untuk menghadapi agresi colonial. Meski demikian, terdapat kondisi yang menarik ketika terjadi pergolakan politik di Indonesia, Pancasila tidak mengalami pergeseran dalam setiap konstitusi yang dihasilkan sebagai respon atas pergolakan politik. Artinya tidak ada usaha untuk mengganti Pancasila sebagai dasar negara yang diletakkan pada saat persiapan (tanggal) kemerdekaan Indonesia.

Pancasila ‘dibangunkan’ dari tidur panjangnya ketika Indonesia mengalami berbagai pergolakan politik ketika Soeharto berhasil mengambil alih kekuasaan pasca tahun 1965. Pengalaman instabilitas politik dan kemorosotan ekonomi menjadi dalih bagi Soeharto untuk memulihkan pasca gejolak politik menggunakan Pancasila basis legitimasi penggunaan kekuasaan. Soeharto menggunakan istilah Demokrasi Pancasila untuk memperoleh kesan kuat, bahwa dirinya adalah seorang yang memegah teguh Pancasila. Namun dalam praktek penggunaan kekuasaannya, Pancasila sekedar menjadi teks tertulis yang mati dan melahirkan jurang pemisah antara teks dan kenyataan. Sila-sila Pancasila hanya menjadi alat indoktrinasi atau propaganda untuk memberi efek takut bagi para penentang kebijakan pembangunan yang dilakukan.

Pancasila menjadi kedok penyimpangan yang dilakukan oleh Orde Baru. Tameng legitimasi bagi berbagai hal untuk melaksanakan pembangunan, menghasilkan keserakahan dan aneka pelanggaran yang menjauh dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Meski stabilitas politik tercapai dan pembangunan ekonomi dapat teraih, namun kebebasan dan hak-hak warga negara yang diatur dalam konstitusi dilaksanakan berdasarkan tafsir sepihak hanya untuk memuaskan dahaga kekuasaan dan melanggengkannya. Kebebasan dibatasi dan melahirkan tekanan politik bagi aktivis demokrasi yang menghendaki partisipasi politik dalam proses pembangunan. Dimana pembangunan dilakukan dengan melanggar HAM warga negara, dan negara bergeming untuk mempertimbangkan manusia/warga negara yang menjadi korban pembangunan yang diatasnamakan dengan Pancasila.

Gugatan terhadap pelaksanaan Pancasila versi Orba mengalami puncaknya pada Mei 1998. Dipicu oleh krisis ekonomi, gerakan mahasiswa dan kekuatan anti Soeharto memaksa lengser keprabon dan menyerahkan kursi kepresiden kepada wakilnya. Pelanggaran HAM dan keterbatasan partisipasi politik yang berkelindan dengan krisis moneter melahirkan semangat perjuangan anti Soeharto yang memerintah tidak dengan demokratis. Kebebasan (politik) yang diperjuangkan dan berhasil pada tahun 1998 harus mampu menyuburkan internalisasi dan aktulaisasi nilai-nilai Pancasila. Membuka kembali ruang diskursus untuk mendalami semua gagasan yang terkandung dalam Pancasila, dan meletakkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menempatkan Pancasila kembali dalam diskursus keseharian akan dipandang sebagai alien karena stigma negative Pancasila dari hasil penafsiran Pancasila yang sepihak pada masa orde baru. Tafsir ulang yang tidak sekedar partisipatif yang dimotori oleh negara/pemerintah, melainkan pemahaman dari hasil deliberasi dalam mengartikulasi nilai-nilai Pancasila. Kebebasan politik yang sudah digenggam dalam manifestasi partisipasi politik dan otonomi daerah harus diarahkan untuk memperkuat basis pemikiran mengenai Pancasila. Pancasila yang tidak hanya didasarkan pada tafsir penguasa seperti dipraktekkan selama ini, melainkan menggali kembali nilai-nilai Pancasila yang berkembang di masyarakat. Sehingga Pancasila terus mengalami artikulasi dalam kehidupan keseharian dan tetap membumi, tidak teralienasi dari nilai-nilai (yang masih) dianut oleh masyarakat Indonesia.

  1. Pancasila Dalam Era Reformasi

Era Reformasi di Indonesia dimulai pada pertengahan 1998, tepatnya saat Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 dan digantikan wakil presiden BJ Habibie. Pengunduran diri ini ialah dampak dari ketidakpuasan masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan pimpinan Soeharto saat itu yang juga disusul dengan krisis finansial Asia yang menyebabkan ekonomi Indonesia melemah. Ketidakpuasan masyarakat ini dituangkan melalui demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh berbagai organisasi aksi mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.

Tragedi Trisakti adalah salah satu tragedi puncak jatuhnya rezim Soeharto. Tragedi Trisakti yang meletus pada tanggal 12 Mei 1998 memicu Kerusuhan Mei 1998 sehari setelahnya. Gerakan mahasiswa pun meluas hampir diseluruh Indonesia. Di bawah tekanan yang besar baik dari dalam maupun dari luar negeri, akhirnya kekuasaan Soeharto dapat ditumbangkan, ia akhirnya memilih mengundurkan diri dari kursi kekuasaan yang telah didudukinya selama 32 tahun.

Menurut Panitia Lima (Bung Hatta, Subardjo, Maramis, Sunarjo, Pringgodigdo) Pancasila dapat dipahami bukan hanya dengan membaca teksnya, melainkan dengan mempelajari terjadinya teks itu. Fleksibilitas Pancasila yang akan mampu membingkai nasionalisme menjadi aset penting bagi kehidupan era ini, sebab anekaragam sosial dan kemajemukan budaya (agama, suku, geografis, pengalaman sejarah) dan kehidupan paradoks butuh ”kesadaran bersama yang baru secara rohaniah” sebagai bangsa.

Jika mencermati keberadaan Pancasila dalam kehidupan politik yang banyak mengalami perubahan konstitusional dan rezim kekuasaan (1945 – 1978) Pancasila selalu dipertahankan. Menurut Yamin (1959), hal demikian memperlihatkan Pancasila mengandung kenyataan yang hidup dan tumbuh dalam sanubari orang per orang dalam masyarakat, sehingga Pancasila selalu dipertahankan oleh rakyat Indonesia yang mendukung tiap-tiap negara nasional yang lahir di atas bumi tumpah darah Indonesia. Dengan Pancasila rakyat Indonesia telah bersatu dalam revolusi dan dalam perjuangan sejak hari proklamasi. Pancasila merupakan kristalisasi daripada intisari perjuangan kemerdekaan nasional di abad ke-20.

Menurut Sartono Kartodirdjo, Pancasila akan menjadi penentu dalam orientasi tujuan sistem sosial – politik, kelembagaan dan kaidah-kaidah pola kehidupan, yang bukan hanya menjadi faktor determinan, juga sebagai payung ideologis bagi pelbagai unsur dalam masyarakat yang bersifat majemuk.

Pancasila sebagai asas kerohanian dibutuhkan era ini yang karakternya memperlihatkan euforia keanekaragaman dan kejamemukan dengan corak paradoks (nilai-nilai budaya yang mengontrol) serta ketegangan antara kesadaran individualisme dan kolektivisme dalam penyesuaian (dimana individualisme tanpa kolektivisme akan merusak sedang kolektivisme tanpa individualisme akan menghancurkan).

Fleksibilitas Pancasila yang akan mampu membingkai nasionalisme menjadi sebagai aset penting bagi kehidupan era ini, sebab anekaragam sosial dan kemajemukan budaya (agama, suku, geografis, pengalaman sejarah) dan kehidupan paradoks butuh ”kesadaran bersama yang baru secara rohaniah” sebagai bangsa.

Di era reformasi ini, Pancasila seakan tidak memiliki kekuatan mempengaruhi dan menuntun masyarakat. Pancasila tidak lagi populer seperti pada masa lalu. Elit politik dan masyarakat terkesan masa bodoh dalam melakukan implementasi nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila memang sedang kehilangan legitimasi, rujukan dan elan vitalnya. Sebab utamannya sudah umum kita ketahui, karena rejim Orde Lama dan Orde Baru menempatkan Pancasila sebagai alat kekuasaan yang otoriter.

Terlepas dari kelemahan masa lalu, sebagai konsensus dasar dari kedirian bangsa ini, Pancasila harus tetap sebagai ideologi kebangsaan. Pancasila harus tetap menjadi dasar dari penuntasan persoalan kebangsaan yang kompleks seperti globalisasi yang selalu mendikte, krisis ekonomi yang belum terlihat penyelesaiannya, dinamika politik lokal yang berpotensi disintegrasi, dan segregasi sosial dan konflik komunalisme yang masih rawan. Kelihatannya, yang diperlukan dalam konteks era reformasi adalah pendekatan-pendekatan yang lebih konseptual, komprehensif, konsisten, integratif, sederhana dan relevan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.

Melihat perilaku sebagaian besar elit politik kita sekarang yang sangat pragmatis, feodalistik, dan materialis, serta tidak lagi dominan menggunakan ideologi Pancasila sebagai pendekatan imperatif dalam kerja politik mereka hampir pada semua level dan kelembagaan politik serta dalam membuat dan mengawasi produk perundang-undangan, kelihatannya masa depan reformasi dan demokratisasi, integrasi politik, serta kebangsaan Indonesia seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa, masih unpredictable.

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Nilai-nilai Pancasila lahir tidak terlepas dari nilai-nilai kehidupan masyarakatnya pada jaman pra sejarah.

Pancasila yang tidak hanya didasarkan pada tafsir penguasa seperti dipraktekkan selama ini, melainkan menggali kembali nilai-nilai Pancasila yang berkembang di masyarakat. Sehingga Pancasila terus mengalami artikulasi dalam kehidupan keseharian dan tetap membumi, tidak teralienasi dari nilai-nilai (yang masih) dianut oleh masyarakat Indonesia.

Terlepas dari kelemahan masa lalu, sebagai konsensus dasar dari kedirian bangsa ini, Pancasila harus tetap sebagai ideologi kebangsaan. Pancasila harus tetap menjadi dasar dari penuntasan persoalan kebangsaan yang kompleks seperti globalisasi yang selalu mendikte, krisis ekonomi yang belum terlihat penyelesaiannya, dinamika politik lokal yang berpotensi disintegrasi, dan segregasi sosial dan konflik komunalisme yang masih rawan.

  1. Saran-saran
  2. Seharusnya mahasiswa lebih memahami seberapa pentingnya Pendidikan Pancasila agar dapat menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila.
  3. Bagi pemerintah diharapkan mampu mempertahankan Pendidikan Pancasila sebagai modul pembelajaran sebagai modal P4 ( Pedoman, Penghayatan, Pengamalan Pancasila).

 

DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto.2007.Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA Kelas XII.Jakarta:Erlangga

Tim Dosen Pendidikan Pancasila.2011.Modul Pendidikan Pancasila.Surabaya:UNESA UNIVERSITY PRESS

http://pancasilafti.wordpress.com/2012/05/16/pancasila-yang-menyejarah/

diary-mybustanoel.blogspot.com

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

ANALISIS KEBUTUHAN SARANA DAN PRASARANA

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan rahmat dan taufikNya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah analisis kebutuhan sarana prasarana sekolah ini dengan baik dan tepat waktu.

Makalah ini mencakup tentang bagaimana seharusnya seorang manajer sekolah mengelola sekolahnya khususnya dalam sarana dan prasarana di sekolahnya. Sehingga dengan sarana dan prasarana yang baik diharapkan prestasi belajar siswa akan meningkat.

“Tiada gading yang tak retak”, tentunya makalah ini jauh dari kata sempurna. Sehingga kami harapkan saran dan kritik para pembaca, untuk memperbaiki makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca maupun penulis.

Surabaya, 19 Maret 2013

Tim Penulis

 

BAB I

Pendahuluan

1.1.            Latar Belakang

Sekolah merupakan sebuah sistem yang memiliki tujuan. Berkaitan dengan upaya mewujudkan tujuan tersebut, seringkalian masalah dapat muncul. Masalah-masalah itu dapat di kelompokan sesuai dengan tugas-tugas administratif yang menjadi tanggung jawab administrator sekolah, sehingga merupakan substansi tugas-tugas administratif kepala sekolah selaku administrator. Di antaranya adalah tugas yang di kelompokan menjadi substansi perlengkapan sekolah.

Sarana dan prasarana merupakan bagian yang menunjang proses pembelajaran. Sarana merupakan semua perangkat peralatan, bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Sedangkan prasarana merupakan semua kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah.

Sekolah di Indonesia mayoritas adalah sekolah konvensional yang serba sederhana sehingga sarana dan prasarana yang ada di sekolah tidak secanggih dan selengkap sarana dan prasarana sekolah di luar negeri. Pada umumnya sekolah di Indonesia menggunakan sarana dan prasarana yang sederhana seperti meja dan kursi yang tebuat dari kayu sehinnga dalam pemakaiannya tidak bertahan lama, tidak seperti sekolah di luar negeri yang sudah menggunakan peralatan dari besi sehingga penggunaanya tahan lama.

Adapun sarana dan prasarana di sekolah memiliki tingkatan kebutuhan yang berbeda sesuai dengan tingkatan pendidikan. Dalam makalah ini kami mencoba memaparkan tentang analisis kebutuhan sarana dan prasarana di sekolah.

1.2.            Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian analisis kebutuhan sekolah?

2. Apa saja jenis-jenis kebutuhan sekolah?

3. Apa hubungan sarana prasarana dengan pembelajaran?

1.3.            Tujuan Masalah

  1. Mengetahui pengertian analisis kebutuhan sekolah
  2. Mengetahui jenis-jenis kebutuhan sekolah
  3. Mengetahui hubungan sarana prasarana dengan pembelajaran

BAB II

Isi

2.1.         Pembahasan

 

  1. A.    Pengertian Analisis Kebutuhan Sarana Prasarana Sekolah

Secara sederhana, manajemen sarana prasarana sekolah dapat didefinisikan sebagai proses kerja pendayagunaan semua perlengkapan pendidikan secara efektif dan efisien.

Analisis kebutuhan sekolah adalah mengamati dan mempelajari tentang apa saja yang menjadi kebutuhan sekolah sekarang dan di masa mendatang. Oleh karena itu analisis kebutuhan sekolah perlu di laksanakan agar pihak manajemen sekolah dapat menilai dan memberikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh sekolah tersebut sehingga dapat menunjang kegiatan belajar mengajar dan menghasilkan out put dan out came berkwalitas.

Sarana dan prasarana merupakan kebutuhan yang  penting dalam sebuah sekolah, apabila sarana dan prasarana tidak terpenuhi, maka kegiatan pembelajaran tidak akan optimal.

Manajemen kebutuhan sekolah sebagai proses kerja sama pendayagunaan semua kebutuhan sekolah secara efektif dan efisien. Kebutuhan sekolah dapat dikelompokkan menjadi: sarana pendidikan, dan prasarana pendidikan. Prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang proses pendidikan di sekolah. Dalam pendidikan misalnnya lokasi atau tempat, bangunan sekolah, lapangan olahraga, ruang dan sebagainya. Sedangkan sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah, seperti: ruang , buku, perpustakaan, labolatarium dan sebagainya.

Sedangkan menurut keputusan menteri P dan K No.079/1975, sarana pendidikan terdiri dari 3 kelompok besar yaitu:

1) Bangunan dan perabut sekolah

2) Alat pelajaran yang terdiri dari pembukauan dan alat-alat peraga dan labolatarium

3)Media pendidikan yang dapat dikelompokan menjadi audiovisual yang menguanakan alat penampil dan media yang tidak menggunakan alat penampil.

  1. B.     Jenis-jenis Kebutuhan Sarana Prasarana Sekolah
    1. Kantor sekolah

Kantor sekolah adalah salah satu unit pada sekolah sebagai suatu lembaga yang memiliki tugas memberikan layanan ketatausahaan demi kelancaran penyelenggaraan pendidikan. Tujuannya untuk menciptakan kemudahan bagi segenap bagian sekolah dalam menjalankan tugas-tugasnya. Dengan demikian, fungsi utama setiap kantor sekolah adalah meringankan (facilitating function) keseluruhan bagian sekolah agar bisa melaksanakan  tugas-tugasnya secara lebih efektif dan efisien.

Dalam rangka melaksanakan fungsinya, setiap kantor sekolah perlu dilengkapi dengan sarana yang bermacam-macam. Secara garis besar sarana kantor sekolah itu dapat diklasifikasikan menjadi:

  1. Perabotan kantor sekolah

Perabotan kantor sekolah merupakan perlengkapan yang secara tidak langsung dapat digunakan dalam melakukan aktivitas ketatausahaan sekolah. jenis perabotan kantor sekolah pada dasarnya banyak sekali.

Namun paling tidak setiap kantor sekolah memiliki perabotan-perabotan tertentu yang tidak boleh tidak memang harus dimilikinya, seperti: meja kepala sekolah atau kepala bagian tatausaha sekolah, meja tulis, kursi kepala sekolah atau kepala bagian tatausaha sekolah, kursi karyawan, rak blangko dll.

  1. Bahan dan peralatan kantor sekolah

Telah ditegaskan dimuka bahwa kantor sekolah merupakan salah satu unit pada sekolah yang memiliki tugas memberikan layanan ketatausahaan sekolah. Sebagai sesuatu unit pada sekolah, kantor sekolah bertugas menghimpun, mencatat, mengolah, menggandakan, mengirim, dan menyimpan keterangan atau informasi penyeleggaraan pendidikan di sekolah. beberapa kegiatan ketatausahaan pada kantor sekolah adalah membuat rekening, mengonsep surat, mengirim surat, menggandakan surat, mengarsip surat, melakukan perhitungan-perhitungan dll.

  1. Media pengajaran

Pada dasarnya sekolah-sekolah itu didirikan untuk menyelenggarakan proses belajar mengajar bagi murid. Sementara ini sebagian besar proses belajar mengajar disekolah berlangsung di kelas guru-guru sekolah cenderung lebih suka mengelola proses belajar mengajar di kelas. Oleh karena perihal diatas setiap kelas di sekolah perlu dilengkapi dengan sarana belajar mengajar yang dapat digunakan guru maupun murid. Media pengajaran meliputi dari:

  1. Kelas

Kelas merupakan tempat dimana proses belajar mengajar terjadi. Dalam hubungannya dengan perabot kelas yang perlu disediakan antara lain berupa papan tulis, meja, dan kursi guri, meja dan kursi murid, LCD, papan daftar hadir murid, papan daftar piket, papan pemajangan karya murid, papan grafik pencapaian target kurikulum, papan daftar pengelompokan murid.

  1. Laboratorium

Laboratorium merupakan salah satu instrument sekolah yang dimaksudkan manunjang pembelajaran agar pembelajaran menjadi lebih efektif. Laboratorium ada banyak macamnya, diantaranya laboratorium computer yang berisikan sejumlah computer, laboratorium bahasa yang berisi headphone, computer dan LCD laboratorium bahasa digunakan untuk menunjang pembelajaran bahasa Indonesia maupun asing agar kualitas peserta didik meningkat sesuai dengan arus global, laboratorium IPA yang beirisi bermacam macam instrument yang berhubungan dengan mata pelajaran alam, seperti mikroskop, alat alat fisika, alat-alat biologi dan lain sebagainya. Fungsi utama dari laboratorium adalah sarana untuk siswa agar dapat mempraktekkan apa yang telah dipelajari di dalam kelas sehingga teori-teori yang diberikan di dalam pembelajaran kelas dapat di aplikasikan langsung ke sasaran.

  1. Koperasi sekolah

Koperasi sekolah merupakan tempat yang menyediakan berbagai peralatan sekolah, sperti buku penunjang (paket atau lembar kerja siswa), buku tulis, peralatan tulis, seragam sekolah, dan lain-lain. Dalam sekolah kejuruan biasanya koperasi sekolah digunakan untuk media praktek siswa yang mengambil studi jurusan akuntansi atau perkantoran.

  1. Lapangan

Tempat yang berfungsi sebagai media pembelajaran dalam pelajaran olahraga, selain itu lapangan dapat difungsikan sebagai tempat melangsungkan upacara. Lapangan ada berbagai macam, diantaranya lapangan sepak bola, lapangan bulu tangkis, lapangan basket dan lain-lain.

  1. Perpustakaan sekolah

Perpustakaan sekolah merupakan salah satu sarana pendidikan dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan ssssikap murid. penyelenggaraannya memerlukan ruang khusus beserta sarananya. Semakin lengkap perlengkapannya semakin baik pula penyelenggaraan perpustakaan sekolah. Ruang dan sarana yang tersedia harus ditata dan dirawat dengan baik, sehingga benar-benar menunjang penyelenggaraan sekolah secara efektif dan efisien.

Ada beberapa asas atau pedoman yang perlu diperhatikan pada waktu mendirikan gedung perpustakaan sekolah, atau dalam memilih salah satu ruang untuk kepentingan perpustakaan antara laian:

  • Fungsi utama perpustakaan sekolah adalah sebagai sumber belajar. Keberadaannya berhubungan langsung dengan proses belajar mengajar dikelas.
  • Gedung perpustakaan sekolah sebaiknya tidak jauh dari lapangan parker. Asas ini perlu dipertimbangkan khususnya pada sekolah yang luas sekali dan lebih melayani pengunjung.
  • Gedung atau ruang perpustakaan sekolah sebaiknya jauh dari kebisingan yang sekiranya menggangu ketenangan murid-murid yang sedang belajar di perpustakaan sekolah.
  • Gedung atau ruang perpustakaan sekolah sebaiknya mudah dicapai oleh kendaraan yang mengangkut buku.
  • Gedung atau ruang perpustakaan sekolah harus aman, baik dari bahaya kebakaran, kebanjiran, ataupun dari pencurian.
  • Gedung atau ruang perpustakaan sekolah sebaiknya ditempatkan di lokasi kemungkinannya mudah di perluas pade masa yang akan datang.
  1. Kantin sekolah

Kantin sekolah dikategorikan sebagai prasarana sekolah karena tidak berhubungan langsung dengan proses pembelajaran. Kantin sekolah adalah tempat dimana yang menyediakan berbagai macam makanan untuk siswa. Kantin sekolah dimaksudkan agar ketika jam istirahat siswa tidak keluar masuk halaman sekolah sehingga akan membahayakan dirinya, maka dari itu didirikanlah kantin sekolah yang menyediakan berbagai makanan bergizi yang aman dan sehat serta dapat dikonsumsi oleh siswa.

  1. Kamar mandi

Salah satu instrument prasarana lainnya adalah kamar mandi. Kamar mandi adalah instrument yang harus dimiliki oleh setiap sekolah, karena kamar mandi adalah kebutuhan dasar manusia yang tidak bias lepas dari hidupnya.

  1. C.    Hubungan Sarana Prasarana dengan Proses Pembelajaran

Jenis peralatan dan perlengkapan yang di sediakan di sekolah dan cara-cara pengadministrasiannya mempunyai pengaruh besar terhadap program mengajar–belajar. Persediaan yang kurang dan tidak memadai akan menghambat proses belajar-mengajar. Demikian pula administrasinya yang jelek akan menurangi kegunaan alat-alat dan perlengkapan tersebut, sekalipun peralatan dan perlengkapan pengajaran itu keadaannya istimewa.

Titik berat dalam hal ini adalah kepada belajar yang di kaitkan dengan masalah-masalah dan kebutuhan serta kegunaan hasil belajar nanti di dalam kehidupannya. Karena penyediaan saran pendidikan di suatu sekolah haruslah di sesuaikan dengan kebutuhan anak didik serta kegunaan hasilnya di masa-masa mendatang.

BAB III

Penutup

3.1. Kesimpulan

Dalam penelitian yang dilakukan oleh World Bank menyebutkan bahwa sarana dan prasarana sekolah tidak secara langsung mempengaruhi prestasi belajar siswa, dan kami sependapat dengan penelitian itu. Pembelajaran dapat dilakukan dimana saja tanpa mengenal waktu dan tempat, pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mampu membawa individu kea rah yang lebih baik.

Tetapi sarana dan prasarana tidak juga tidak penting dalam pembelajaran, sarana dan prasarana juga penting untuk menunjang prestasi peserta didik. Karena sarana dan prrasarana yang baik sedikitnya akan berpengaruh pada peningkatan prestasi peserta didik. Maka seorang manajer sarana dan prasarana harus mampu menganalisis berbagai kebutuhan sarana dan prasarana tersebut

 

Daftar Rujukan

1) Bafadal Ibrahim. 2004. Manajemen Perlengkapan Sekolah. PT BUMIKARSA. Jakarta.

2) http://indostudi.blogspot.com/2011/06/manajemen-sarana-prasarana.html

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PENTINGNYA, FAKTOR, BENTUK DAN ANALISIS KEKURANGAN SERTA KELEBIHAN ORGANISASI KURIKULUM

Kata Pengantar

            Puji syukur Alhamdulillah kami haturkan karena dengan kerja keras dan kerja cerdas serta rahmat Allah kami akhirnya bisa menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Makalah berjudul B.Organisasi Kurikulum ini disusun untuk memperjelas pada pembahasan fungsi fungsi manajemen kurikulum yang mana nantinya untuk memahaminya, Organisasi Kurikulum ini harus diintegrasikan dengan bagian fungsi fungsi manajemen kurikulum yang lain.

Dalam proses pembuatan makalah ini kami mengucapkan terimakasih untuk:

  1. dosen pembimbing mata kuliah manajemen kurikulum:

a. Dr. Sulasminten

b. Dr. Karwanto, S.Ag.,M.Pd

2. sumber referensi (pustaka) yang menjadi rujukan untuk memudahkan kami dalam memahami.

Saran, kritik dari pembaca sangat membangun dalam evaluasi pembuatan makalah agar nantinya kami dapat menyajikan yang lebih baik lagi baik dari segi isi dan tampilan untuk mekalah selanjutnya. Karena bagaimanapun kami menyadari tak ada manusia yang sempurna, nihil dari kesalahan. Oleh karena itu apabila terdapat kesalahan dalam penyajian baik dari segi isi ataupun tampilan kami mohon maaf dan semoga menjadi tahapan dari proses belajar kami.

Terimakasih

Surabaya, 10 Maret 2013

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

-Ideal:

Kurikulum lebih luas daripada sekedar rencana pembelajaran, tetapi meliputi segala pengalaman atau proses belajar siswa yang direncanakan dan dilaksanakan dibawah bimbingan lembaga pendidikan. Suatu kurikulum harus memuat pernyataan tujuan, menunjukkan pemilihan dan pengorganisasian bahan pelajaran serta rancangan penilaian hasil belajar (Hilda Taba, 1962). Bahkan kurikulum harus merupakan bahan pelajaran atau mata pelajaran yang dipelajari siswa, program pembelajaran, hasil pembelajaran yang diharapkan, reproduksi kebudayaan, tugas dan konsep yang mempunyai ciri-ciri tersendiri, agenda untuk rekontruksi sosial, serta memberikan bekal untuk kecakapan hidup (Schubert, 1986).

Salah satu aspek yang perlu dipahami dalam pengembangan kurikulum adalah aspek yang berkaitan dengan organisasi kurikulum. Organisasi kurikulum merupakan pola atau desain bahan kurikulum yang tujuannya untuk mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif.

-Realitas

Di lapangan, sebagai calon seorang manager pendidikan yang nantinya berpeluang akan berkecimpung dalam bidang manajemenisasi kurikulum sekolah belum memiliki pengetahuan akan gambaran bagaimana mengorganisasi kurikulum yang baik. Karena organisasi kurikulum yang akan memudahkan bagaimana langkah langkah yang akan dilakukan oleh pengajar/pendidik dan siswa dalam mencapai tujuan dari pendidikan serta tujuan kurikulum itu sendiri. Tanpa itu akan merasa kesulitan dalam aplikasi kepengajarannya. Sedangkan dalam epistimologinya organisasi kurikulum sendiri memiliki bentuk bentuk kurikulum yang berbagai macam yang mana masing masing macamnya memiliki kelebihan dan kekurangan tertentu apabila diterapkan yang ini memengaruhi tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan. Artinya pencapaian tujuan pendidikan sangat ditentukan tepat tidaknya seorang ahli pendidikan dalam memilih bentuk bentuk organisasi kurikulum yang ada. Jika salah bentuk organisasi kurikulum yang dipilih, pasti pula tujuan pendidikan/kepengajaran pasti gagal, begitupun sebaliknya jika tepat dalam memilih bentuk organisasi kurikulum maka tujuan pendidikan berpeluang besar sukses. Sehingga karena seorang manager pendidikan juga nantinya akan menjadi ahli pendidikan maka harus memiliki pengetahuan dan pemahaman apa saja faktor faktor yang melingkupi organisasi kurikulum, bentuk bentuk kurikulum ditinjau dari organisasi kurikulum ada dua yakni kurikulum berdasarkan mata pelajaran dan terpadu yang masing masing itu memiliki bentuk bentuk dan bagian bagian lagi, apakah bentuk bentuknya dan bagian bagiannya tersebut serta kelebihan dan kekurangan bentuk kurikulum itu jika diterapkan.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana bentuk bentuk kurikulum berdasarkan mata pelajaran?
  2. Bagaimana analisa kelebihan dan kekurangan bentuk bentuk kurikulum tersebut apabila diterapkan?
  3. Bagaimana bagian bagian dari kurikulum terpadu?

 

1.3  Tujuan

  1. Untuk menunjukkan bentuk bentuk kurikulum berdasarkan mata pelajaran
  2. Untuk menunjukkan analisa kelebihan dan kekurangan bentuk bentuk kurikulum tersebut apabila diterapkan
  3. Menunjukkan bagian bagian kurikulum yang ada dalam bentuk kurikulum terpadu.

BAB 2

PEMBAHASAN

 

B. Organisasi Kurikulum

Ada beberapa faktor yang melingkupi/ faktor yang harus dipertimbangkan dalam organisasi kurikulum, antara lain :

  1. Ruang lingkup (scope) dan urutan bahan pelajaran. Lingkup materi organisasi kurikulum cenderung menyajikan bahan pelajaran yang bersumber dari kebudayaan dan informasi. Tidak hanya lingkup materi pelajaran saja yang harus diperhatikan, tetapi bagaimana urutan (sequence) bahan tersebut harus disajikan dalam kurikulum.
  2. Kontinuitas dalam organisasi kurikulum perlu diperhatikan, terutama yang berkaitan dengan substansi bahan pelajaran untuk siswa, jangan sampai terjadi pengulangan atau loncatan-loncatan yang tidak jelas tingkat kesukarannya.
  3. Keseimbangan bahan pelajaran juga perlu diperhatikan. Ada dua aspek yang selalu diperhatikan dalam keseimbangan pada organisasi kurikulum :

a) keseimbangan dalam substansi bahan atau isi kurikulum

b) keseimbangan yang berkaitan dengan cara atau proses belajar. Selain itu aspek lain seperti estetika, intelektual, moral, sosial-emosional, personal, religius, seni-apresiasi dan kinestik juga harus terakomodasi dalam isi kurikulum.

  1. Alokasi waktu yang dibutuhkan dalam kurikulum harus menjadi bahan pertimbangan dalam organisasi kurikulum.

Menurut Nana Syaodih S. (2001), salah satu prinsip dasar dalam pengembangan kurikulum adalah fleksibilitas, yaitu kelenturan kurikulum dalam melayani perbedaan kemampuan, minat, dan kebutuhan peserta didik dan pengguna. Fleksibilitas ini dilakukan melalui program-program pilihan seperti di perguruan tinggi berupa program studi, program minor, konsentrasi, sementara di SMA/SMK ada pilihan jurusan dan bidang keahlian, selain pilihan kegiatan ekstrakurikuler.

Selain pengorganisasian kurikulum berkenaan dengan penjurusan atau pilihan program studi, juga ada pengorganisasian yang berkenaan dengan isi kurikulum atau bahan ajaran, yaitu yang dikelompokkan berdasarkan  mata pelajaran  atau yang biasa disebut separated subject curriculum. Secara umum ada dua bentuk organisasi kurikulum :

  1. 1.    Kurikulum Berdasarkan Mata Pelajaran (Subject Curriculum)
  2. a.    Mata Pelajaran yang Terpisah-pisah (separated subject curriculum)

Separated subject curriculum bertujuan agar generasi muda mengenal hasil-hasil kebudayaan dan pengetahuan umat manusia yang telah dikumpulkan selama berabad-abad agar mereka tak perlu mencari dan menemukan kembali apa yang telah diperoleh generasi terdahulu (S. Nasution, 1986).

Secara fungsional bentuk kurikulum ini memiliki kelebihan dan kekurangan, diantaranya :

  • Ø Kelebihan separated subject curriculum :

a)    Bahan pelajaran disusun secara logis, sistematis, sederhana dan mudah dipelajari.

b)   Mudah diubah dan dikembangkan.

c)    Bentuk kurikulum ini mudah dipola, dibentuk, didesain, bahkan mudah untuk diperluas dan dipersempit sehingga mudah disesuaikan dengan waktu yang ada.

  • Ø Kekurangan separated subject curriculum :

a)    Bahan pelajaran diberikan dan dipelajari secara terpisah-pisah, yang menggambarkan tidak adanya hubungan materi satu dengan lainnya.

b)   Bahan pelajaran yang diberikan tidak bersifat aktual.

c)    Proses belajar lebih mengutamakan guru aktif dan siswa pasif.

d)   Tidak berdasarkan pada aspek permasalahan sosial yang dihadapi .

e)   Bahan pelajaran merupakan informasi maupun pengetahuan dari masa lalu yang terlepas dengan kejadian masa sekarang dan yang akan datang.

f)     Proses dan bahan pelajaran sangat kurang memperhatikan bakat, minat dan kebutuhan siswa.

  1. b.    Mata Pelajaran Gabungan (Correlated Curriculum)

Korelasi kurikulum atau sering disebut broad field adalah penyatuan beberapa mata pelajaran yang sejenis, seperti IPA (yang didalamnya ada fisika, kimia, dan biologi) dan IPS (yang didalamnya ada geografi, ekonomi dan akuntansi, sejarah, sosiologi). Korelasi kurikulum merupakan penggabungan dari mata pelajaran yang sejenis secara insidental. Dari bahan kurikulum yang terlepas-lepas beruaha disatukan dengan bahan kurikulum atau mata pelajaran yang sejenis sehingga dapat memperkaya wawasan siswa dari berbagai disiplin ilmu.

Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dalam pola kurikulum ini, antara lain :

  • Ø Kelebihan Correlated Curriculum :

a)    Bahan bersifat korelasi walau sebatas beberapa mata pelajaran.

b)   Memberikan wawasan yang lebih luas dalam lingkup satu bidang studi.

c)    Menambah minat siswa berdasarkan korelasi mata pelajaran sejenis.

  • Ø Kekurangan Correlated Curriculum :

a)    Bahan pelajaran yang diberikan kurang sistematis serta kurang begitu mendalam.

b)   Kurang menggunakan bahan pelajaran yang aktual.

c)    Apabila prinsip penggabungan belum dipahami, kemungkinan bahan pelajaran yang disampaikan masih terlampau abstrak.

Dalam korelasi kurikulum masih memungkinkan guru agar dapat menyampaikan materi atau membimbing siswa untuk mempelajari bahan pelajaran secara utuh (dalam lingkup broad field) dan dapat meningkatkan daya tarik siswa terhadap mata pelajaran tersebut.

2.  Kurikulum Terpadu (Integrated Curriculum)

Kurikulum ini cenderung lebih memandang bahwa dalam suatu pokok bahasan harus integrated atau terpadu secara menyeluruh. Bahan pelajaran selalu actual sesuai perkembangan dan kebutuhan masyarakat maupun siswa bagi individu yang utuh sehingga bahan pelajaran yang dipelajari selalu sesuai dengan bakat, minat, dan potensi siswa. Dalam kurikulum ini guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengimplementasikan berbagai setrategi belajar mengajar yang sesuai dengan karakteristik kurikulum tersebut.

Bahan pelajaran yang dipelajari siswa dirumuskan dalam pokok bahasan berupa topic atau pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk menyelesaikan permasalahan yang diajukan. Proses pembelajaran lebih bersifat fleksibel.

  • Ø Kekurangan bentuk kurikulum ini :
  1. Menimbulkan keberatan pada tes seleksi masuk yang uniform
  2. Tidak memiliki urutan yang logis dan sistematis
  3. Perlu waktu banyak dan variasi sesuai dengan kebutuhan siswa
  4. Guru belum memiliki kemampuan untuk menerapkan kurikulum ini
  5. Masyarakat, orang tua, dan siswa belum terbiasa dengan kurikulum ini
  • Ø Kelebihan bentuk kurikulum ini :
  1. Mempelajari bahan pelajaran melalui problem solving
  2. Memberikan siswa kesempatan untuk mengembangkan bakat maupun minat
  3. Memberikan siswa kesempatan untuk memecahkan masalah secara komprehensif dan kooperatif
  4. Mempraktekkan nilai demokrasi dalam pelajaran
  5. Memberikan siswa kesempatan untuk belajar maksimal berdasarkan pengalaman langsung

Penilaian yang dikembangkan dalam kurikulum ini cenderung lebih komprehensif dan terpadu, yaitu penilaian dilakukan secara utuh terhadap kemampuan siswa selama proses dan setelah pembelajaran selesai (hasil).

Dalam kurikulum terpadu memiliki bagian bagian yaitu:

  1. a.    Kurikulum Inti (Core Curriculum)

Kurikulum inti merupakan bagian dari kurikulum terpadu sebagai kurikulum umum, tetapi substansinya bersifat problema, pribadi, social, dan pengalaman yang terpadu. Kurikulum ini selalu menggunakan bahan – bahan dari berbagai mata pelajaran guna menjawab atau menyelesaikan permasalahan yang dihadapi atau dipelajari siswa. Topic – topic yang diangkat dalam kurikulum ini selalu berkaitan dengan beberapa disiplin ilmu dan lingkungan, misalnya :

  • Penanggulangan bahaya banjir dengan kehidupan manusia
  • Memahami fungsi otak manusia
  • Membiasakan penngunaan media pembelajaran
  1. b.     Social Functions dan Presistent Situations

Social Functions merupakan bagian dari kurikulum terpadu, kurikulum ini didasarkan atas analisis kegiatan manusia dalam masyarakat. Dalam Social Functions ini dapat diangkat berbagai kegiatan manusia yang dapat dijadikan sebagai topic pembelajaran sehingga Social Functions harus bersifat dinamis.

Sebagai modifikasi dari Social Functions adalah Presistent Life Situation. Dalam Presistent Life Situation karakteristiknya adalah situasi yang diangkat senatiasa yang dihadapi manusia dalam hidupnya. Secara umum ada tiga kelompok situasi yang akan dihadapi manusia :

  1. Situasi mengenai perkembangan individu manusia
  2. Situasi untuk perkembangan partisipasi social
  3. Situasi untuk perkembangan kemempuan menghadapi factor ekonomi dan daya lingkungan
  1. c.     Experience atau Activity Curriculum

Experience curriculum sering disebut juga dengan activity curriculum. Kurikulum ini cenderung mengutamakan kegiatan-kegitan atau pengalaman siswa dalam rangka membentuk kemampuan yang terintegritas dengan lingkungan maupun dengan potensi siswa.

Salah satu karakteristik kurikulum ini adalah untuk memberikan pendidikan keterampilan atau kejuruan, tetapi di dalamnya tercakup pengembangan kemampuan intelektual dan akademik yang berkaitan dengan aspek keterampilan atau kejuruan tersebut.

Kurikulum terpadu dipelopori oleh John Dewey dengan konsepnya Learning by doing dan problem based learning, inti dari konsep ini bahwa pembelajaran harus dimulai dari pembahasan suatu topik atau permasalahan yang diselesaikan secara terpadu dari berbagai disiplin ilmu maupun faktor lingkungan.

Empat tipe pembelajaran proyek yang dapat dikembangkan dalam activity curriculm di antaranya sebagai berikut ;

  1. 1.    Construction on creative project

Pembelajaran ini bertujuan untuk mengembangkan ide-ide atau merealisasikan suatu ide dalam suatu bentuk tertentu.

Contoh: membuat payung, membuat as dengan mode tertentu, menulis gagasan atau surat atau menciptakan permainan.

  1. 2.    Appreciation on enjoyment project

Pembelajaran ini bertujuan menikmati pengalaman-pengalaman dalam bentuk apresiasi atau estesis (estetika).

Contoh: menyaksikan permainan drama, mendengarkan musik, menghayati gambar hasil seni atau mendengarkan cerita.

  1. 3.    The problem project

Pembelajaran ini bertujuan untuk memecahkan masalah yang bersifat intelektual, tetapi ada substansi terdapat keterampilannya (vokasional).

Contoh:bagaimana penanggulangan penyebaran flu burung?. Permasalahan tersebut memerlukan jawaban yang bersifat intelektual, tetapi tidak menutup kemungkinan dibahas tentang bagaimana cara membersihkan kandang unggas dengan cara simulasi.

  1. 4.    The drill or specificproject

Pembelajaran ini bertujuan untuk memperoleh beberapa item atau tingkat keterampiilan.

Contoh: bagaimana mengoprasikan kamera digital, bagaimana cara menulis makalah yang benar, dan sebagainya.

Keuntungan yang akan dirasakan dalam pembelajaran activity curriculm, diantaranya adalah:

  1. Siswa akan berpartisipasi sepenuhnya dalam situasi belajar karena siswa akan mengalami dan akan melaksanakan secara langsung berbagai kegiatan yang telah direncanakan.
  2. Pembelajaran ini akan menerapkan berbagai prinsip-prinsip belajar yang dapat mengoptimalkan kemampuan siswa dalam pembelajaran.
  3. Mengandung aspek estetika, intelektual, vokasional dan kreativitas siswa.

Pembelajaran unit merupakan pengalaman belajar yang saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya yang berpusat pada sebuah pokok atau permasalahan.

Dua jenis sumber pembelajaran unit:

  1. Berpusat pada bahan pelajaran (subject matter), artinya topik atau permasalahan diambil atau diangkat dari topic-topik mata pelajaran.
  2.  Berpusat pada pengalaman (experience atau situation), artinya topik permasalahan diangkat dari situasi lingkungan masyarakat yang dipadukan dengan kebutuhan atau tantangan yang dimiliki oleh siswa.

Perbedaan dua jenis sumber pelajaran ketika diterapkan antara lain:

No

Aspek

Bahan Pelajaran/Subject Contered Unit

Pengalaman/Situation Centered Unit

1 Sumber Kurikulum -konsep kesatuan sbg karakteristik dari isi mata pelajaran

-bersumber dari bidang mata pelajaran yang tersusun

-konsep kesatuan sebagai keterpaduan/ integritas siwa dalam lingkungannya secara menyeluruh

-bersumber dari kebutuhan siswa berdasarkan kemampuan potensi siswa

-berdasarkan aktivitas guru dan siswa

2 Tujuan Pembelajaran -sering kali bukan berdasarkan kebutuhan siswa maupun tuntunan masyarakat

-bersifat umum yang seragam untuk semua siswa

-Tuntutan lebih luas dan komprehensif untuk memenuhi kebutuhan siswa, lingkungan dan pemebentukan kompetensi

-bersifat individual, tetapi memerhatikan aspek kelompok

3 Bentuk Organisasi -bahan disusun secara logis berdasarkan dari bentuk sederhana ke kompleks

-berpusat pada hal hal yang sudah ada atau yang sedang terjadi dengan referensi masa sekarang dan masa yang akan datang

-bentuk organisasi lebih bersifat seragam untuk semua siswa

-pengorganisasian berdasarkan hari ini/sekarang, tidak meninggalkan pengalaman masa lalu untuk membantu menyelesaikan masalah disamping memprediksi masa yang akan datang

-pengorganisasian secara fleksibel yang dikembangkan untuk individual, kelompok

-bentuk perencanaan secara terperinci, fleksibel yang diorientasi pada pembentukan integritas

-menggunakan pendekatan konstruktivitas

4 Implementasi -menitikberatkan pada aktivitas guru saja

-menekankan pada pembelajaran hafalan tidak berlandaskan teori belajar gestalt

-sangat formal dan kaku terhadap pengembangan kegiatan

-menitikberatkan pada partisipasi dan tanggung jawab murid

-belajar secara fungsional dengan menggunakan pendekatan analitis

-menggunakan berbagai prinsip belajar modern

-mengembangkan aspek ilmiah, kreativitas dan totalitas

-menggunakan teori belajar Gestalt

5 Evaluasi -bentuk evaluasi sempit dan lebih periodik

-tidak memerhatikn aspek individual siswa

-penilaian lebih komprehensif dan terpadu dengan menggunakan teknik dan prosedur evaluasi yang andal

BAB 3

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

 

  1. Bentuk bentuk kurikulum berdasarkan mata pelajaran meliputi:

-mata pelajaran yang terpisah pisah

-mata pelajaran gabungan

  1. Kelebihan dan kekurangan kurikulum mata pelajaran yang terpisah pisah adalah materi pelajaran tersampaikan dengan integral dan sistematis tetapi sulit menghubungkan materi pelajaran dengan kondisi lapangan atau tidak sesuai dengan konteks sosial yang ada serta berpusat pada guru bukan murid.

Kelebihan dan kekurangan kurikulum mata pelajaran gabungan adalah wawasan lebih luas dalam satu bidang studi dan menambah minat siswa tetapi bahan pelajarannya kurang sistematis dan kurang mendalam.

  1. Kurikulum Terpadu memiliki bagian bagian meliputi:

-Kurikulum inti

-Social Functions dan Persistent Situations

-Eksperience atau Activity Curriculum

Pustaka

 

Rusman; 2009; Manajemen Kurikulum; Jakarta; PT Raja Grafindo Persada

http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/organisasi-kurikulum.html

http://rifalnurkholiq.blogspot.com/2012/10/organisasi-kurikulum.html

Posted in Uncategorized | Leave a comment